Youth Development for Climate Tech (YDCT) Perkuat Kolaborasi Inovator Muda Asia dalam Menciptakan Solusi Teknologi Iklim

Program Youth Development for Climate Tech (YDCT) sukses mempertemukan para inovator muda dari Singapura, Indonesia, dan India dalam sebuah forum kolaboratif yang berfokus pada pengembangan solusi teknologi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk merancang, membuat prototipe, sekaligus mempresentasikan inovasi berbasis teknologi yang mampu menjawab berbagai persoalan lingkungan secara nyata.

KTT YDCT memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya mengaktifkan peran pemuda sebagai pemimpin teknologi iklim dan pemikir sistem dengan memanfaatkan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta berbagai alat analisis data. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong terjalinnya kolaborasi lintas negara antara siswa dari Singapura, Indonesia, dan India dalam mengembangkan solusi inovatif yang berkelanjutan.

Forum ini juga menjadi ajang untuk memamerkan berbagai prototipe dan gagasan inovatif yang dikembangkan oleh para peserta. Melalui interaksi langsung dengan para pemimpin dan praktisi dalam ekosistem inovasi iklim, para peserta didorong untuk mengembangkan pola pikir kewirausahaan sekaligus memperluas jejaring kolaborasi global.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Sustainable Living Lab yang berkomitmen mendukung inovasi generasi muda dalam menghadapi isu perubahan iklim melalui pendekatan teknologi dan kolaborasi internasional.

Salah satu peserta dari Indonesia, Ipan Aulia Rahman dari Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, mempresentasikan inovasi bertajuk “Powering Solar with Intelligence”. Inovasi ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan kinerja sistem panel surya. Melalui integrasi sensor dan perangkat pengendali yang terhubung ke internet, sistem ini mampu memantau intensitas cahaya matahari, suhu panel, hingga produksi listrik secara real-time melalui platform digital.

Pendekatan ini memungkinkan pengguna untuk memantau performa sistem energi surya dengan lebih akurat, mendeteksi potensi gangguan lebih cepat, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi secara efisien. Integrasi teknologi cerdas tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan energi terbarukan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Selain itu, inovasi menarik juga datang dari tim Thermal Optimizers yang diwakili oleh Mustafa Bilal dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Tim ini mengembangkan CoolRide, sebuah sistem navigasi cerdas berbasis web dan Telegram yang dirancang untuk menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem di kawasan perkotaan tropis seperti Singapura.

Berbeda dengan sistem navigasi konvensional yang hanya mencari rute tercepat, CoolRide menggunakan algoritma Multi-factor Dijkstra yang mengintegrasikan data spasial dari sekitar 696.000 pohon yang tercatat dalam basis data NParks SGTrees serta data cuaca real-time dari NEA. Sistem ini mampu menghitung rute yang paling teduh dan aman secara termal bagi pejalan kaki maupun pesepeda.

Dengan menggabungkan teknologi Artificial Intelligence berbasis Llama-3.1 serta pemodelan bayangan matahari yang presisi, CoolRide berhasil mengurangi paparan panas yang diterima pengguna. Inovasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat mitigasi kesehatan, tetapi juga mendorong mobilitas ramah lingkungan dan berkelanjutan di kawasan perkotaan.

Melalui kegiatan Youth Development for Climate Tech (YDCT), para inovator muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan dalam menghadapi krisis iklim global. Kolaborasi lintas negara dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat melahirkan solusi-solusi kreatif yang berdampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan di masa depan.