Raih Hibah RisetMu Kerja Sama Internasional, Tim Dosen UMTAS Melaksanakan Edukasi Pencegahan HFMD bagi Anak Diaspora Indonesia di Malaysia

KUALA LANGAT, MALAYSIA – Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) kembali memperkuat kiprahnya di tingkat internasional melalui implementasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berbasis riset yang dilaksanakan di Malaysia. Melalui dukungan Hibah Riset Muhammadiyah (RisetMu) Skema Pengabdian kepada Masyarakat Kerja Sama Internasional, tim dosen UMTAS menghadirkan inovasi edukasi kesehatan berbasis komik digital berbahasa Inggris untuk meningkatkan pemahaman anak-anak mengenai pencegahan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD).

Program yang dilaksanakan di Sanggar Belajar Kuala Langat, Selangor, Malaysia ini menyasar anak-anak diaspora Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di negeri jiran. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dampak hasil riset perguruan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam menjawab isu kesehatan masyarakat yang bersifat lintas negara.

Program pengabdian ini diketuai oleh Meiliana Nurfitriani, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMTAS, bersama tim dosen lintas disiplin yang terdiri atas Dr. Anggia Suci Pratiwi, M.Pd. sebagai ahli pendidikan bahasa, Miftahul Falah, Ph.D. sebagai ahli kesehatan, Dr. Mujiarto, M.T. sebagai ahli teknologi dan media pembelajaran, serta satu orang mahasiswa UMTAS, yaitu Rini Syamsiah Nur Alifah. Kolaborasi tersebut mengintegrasikan keahlian dari berbagai bidang untuk menghasilkan model edukasi kesehatan yang lebih inovatif, menarik, dan sesuai dengan karakteristik anak-anak di era digital.

Pemilihan tema HFMD dilatarbelakangi oleh masih tingginya kasus penyakit tersebut di berbagai wilayah Asia, termasuk Malaysia. HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak dengan gejala berupa demam, sariawan, serta munculnya ruam atau lepuhan pada tangan dan kaki. Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh dengan sendirinya, tingkat penularannya yang cukup tinggi menjadikan edukasi pencegahan sebagai langkah penting dalam melindungi kesehatan anak.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim pengabdian mengembangkan komik digital berbahasa Inggris sebagai media edukasi utama. Melalui pendekatan visual yang dekat dengan dunia anak-anak, materi kesehatan yang sering kali dianggap sulit dan membosankan dikemas menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Penggunaan bahasa Inggris sederhana juga menjadi nilai tambah karena memungkinkan siswa memperoleh manfaat ganda, yaitu peningkatan literasi kesehatan sekaligus penguatan kemampuan bahasa Inggris.

Ketua tim pengabdian, Meiliana Nurfitriani, M.Pd., menjelaskan bahwa pemanfaatan komik digital merupakan hasil pengembangan berbasis riset yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media visual. Karena itu, edukasi kesehatan perlu disampaikan melalui pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka. Melalui komik digital berbahasa Inggris, kami berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan dan mudah dipahami,” ujarnya.

Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, para peserta mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dirancang secara interaktif. Selain membaca komik digital, siswa juga terlibat dalam sesi diskusi, tanya jawab, permainan edukatif, kuis, serta praktik perilaku hidup bersih dan sehat. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami gejala HFMD, mengenali cara penularannya, serta mempraktikkan langkah-langkah pencegahan seperti mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan, dan menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Miftahul Falah, Ph.D., yang berperan sebagai ahli kesehatan dalam program ini, edukasi kesehatan sejak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran dan perilaku pencegahan penyakit pada anak.

“Pencegahan merupakan langkah yang paling efektif dalam mengurangi risiko penyebaran HFMD. Ketika anak-anak memahami bagaimana penyakit ini menular dan bagaimana cara mencegahnya, mereka akan lebih siap untuk melindungi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Sementara itu, pengelola Sanggar Belajar Kuala Langat menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Kehadiran media pembelajaran yang memadukan unsur kesehatan, teknologi, dan bahasa dinilai memberikan pengalaman belajar yang baru sekaligus memperkaya wawasan siswa diaspora Indonesia di Malaysia.

Lebih dari sekadar kegiatan edukasi kesehatan, program ini mencerminkan komitmen UMTAS dalam mengembangkan pengabdian masyarakat yang berbasis riset, berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat, dan memiliki dampak yang lebih luas. Keberhasilan memperoleh pendanaan melalui skema kerja sama internasional juga menunjukkan kapasitas akademik dosen UMTAS dalam menghasilkan program-program yang relevan dengan tantangan global.

Melalui sinergi antara bidang pendidikan, kesehatan, dan teknologi, UMTAS terus mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga mampu menjangkau komunitas Indonesia di luar negeri. Kegiatan ini menjadi salah satu bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, berpengetahuan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman melalui penguatan kolaborasi dan pengabdian lintas negara.