
Tasikmalaya – Upaya menekan angka Tuberkulosis (TB) di Kota Tasikmalaya terus diperkuat melalui kolaborasi akademisi dan layanan kesehatan. Pada Jumat, 13 Februari 2026, telah dilaksanakan Pelatihan Kader dalam rangka Penelitian RisetMu Batch IX bertajuk “Effectiveness of Android-Based Education to Improve Self-Care Adherence among Tuberculosis Patients in Tasikmalaya: The Role of Cadres as a Mediating Variable” yang digelar di UPTD Puskesmas Tamansari.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui riset aplikatif berbasis teknologi. Pelatihan dihadiri oleh Hj. Lilis Lismayanti, S.Kep., M.Kep selaku Ketua Peneliti, H. Mohamad Ali Sya’ban, dr. selaku Kepala Puskesmas Tamansari, perwakilan MUI, DMI, unsur RW dan RT dari Kelurahan Mulyasari, Setiamulya, Sukahurip, dan Setiawargi Kecamatan Tamansari, serta seluruh kader kesehatan Puskesmas Tamansari.
Dalam sambutannya, Hj. Lilis Lismayanti, S.Kep., M.Kep menegaskan bahwa angka penderita TB yang terus meningkat salah satunya disebabkan oleh rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Pengobatan TB yang memerlukan waktu panjang sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi pasien, sehingga peran kader sebagai pendamping dan motivator menjadi sangat penting.
“Melalui penelitian ini, kami ingin melihat efektivitas edukasi berbasis Android dalam meningkatkan kepatuhan self-care pasien TB, dengan kader sebagai variabel mediasi. Artinya, kader bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi sebagai jembatan utama antara inovasi teknologi dan pasien,” ungkapnya.
Kepala Puskesmas Tamansari, H. Mohamad Ali Sya’ban, dr., menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kontribusi UMTAS terhadap pasien, kader kesehatan, serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah Tamansari. Ia menegaskan bahwa dukungan penelitian terkait penerapan aplikasi TB Care sangat relevan dengan kondisi lapangan, terutama dalam menurunkan angka TB paru di Kecamatan Tamansari.
Pelatihan ini membekali kader dengan pemahaman tentang manajemen self-care pasien TB, pentingnya kepatuhan minum obat, pemantauan gejala, serta pemanfaatan aplikasi berbasis Android sebagai media edukasi dan monitoring. Kader diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan perilaku kesehatan, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga keluarga yang memiliki kontak erat serumah agar tidak tertular.
Sinergi antara akademisi, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perangkat wilayah menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program ini. Dukungan dari MUI, DMI, serta unsur RW dan RT menunjukkan bahwa penanganan TB bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan gerakan bersama masyarakat.
Melalui program RisetMu Batch IX ini, diharapkan terjadi peningkatan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan secara tuntas, sehingga pasien dapat kembali sehat, keluarga terlindungi dari risiko penularan, dan angka TB di Kota Tasikmalaya dapat ditekan secara signifikan.
Program ini menjadi langkah nyata bahwa inovasi teknologi, ketika dipadukan dengan peran aktif kader dan dukungan masyarakat, mampu menghadirkan solusi berkelanjutan bagi permasalahan kesehatan publik.
